Tampilkan postingan dengan label Press Release. Tampilkan semua postingan


Tasikmalaya, NU Online; Sebanyak 1500 santri Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa ikut memeriahkan Konferensi Cabang Nahdlatul XVI. Mereka menggelar konvoi sejauh 30 km ke lokasi konferensi di Pondok Pesantren Cipasung Singaparna, Kamis (29/12).

Gemuruh nyanyian mars Baitul Hikmah dan lagu-lagu khas NU menghiasi rombongan santri berseragam putih di atas mobil bak. Tercatat 45 mobil santri putra dan putri ditambah sembilan mobil ranting NU di seluruh Salopa.

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa KH Acep Salahudin mengatakan, konvoi ini dilandasi oleh rasa kepemilikian terhadap NU. NU merupakan pesantren besar dan pesantren merupakan NU kecil.

Ketua MWCNU Salopa ini melanjutkan, tidak hanya santri yang dikerahkan, tapi ranting-ranting NU pun ikut memeriahkan. Setiap ranting NU menggunakan satu mobil. Rombongan MWCNU Salopa juga berpartisipasi.

“Ini semua dalam rangka rasa memiliki, NU milik kita, milik pesantren, milik seluruh umat Muslim,” jelas putra Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2010 KH Saepuddin Zuhri rahimahullah.

Salah satu santri Haurkuning yang mengikuti konvoi, Asy’ari, mengatakan dirinya merasa bangga dengan mengikuti kegiatan ini. “Ketika ada momen seperti ini saya teringat wasiat KH Saepuddin Zuhri. Yang pertama wajib mertahankeun aqidah syariah dan akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah. Yang kelima kudu jadi NU.” (Husni Mubarok/Alhafiz K)

--- --- ---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id


Tasikmalaya, NU Online; Menghafal syair berbahasa Arab bagi para santri tidaklah asing. Namun, bersaing membawakan syair itu dalam sebuah ajang lomba tak banyak ditemui. Inilah yang tampak di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (21/10).

Di pesantren yang terletak di Kampung Haurkuning, Kecamatan Salopa ini para santri membawakan syair-syair dari Alfiyah Ibnu Malik dan Ta’limul Muta‘allim dengan cara memadukan syair dan wazan yang terdapat dalam ‘arud, ilmu syair bahasa Arab. Langgamnya disesuaikan dengan zaman sekarang, bahkan bisa bernuansa kebarat-baratan, ketimur-timuran, dan juga nuansa khas Nusantara.

Dengan tetap menaati kaidah ilmu arud, para santri dipersilakan membawakan syair dengan berbagai genre musik, bahkan iringan para penari dari kalangan para santri. Dewan Santri Baitul Hikmah Haurkuning Fahmi Dziaulhaq menuturkan bahwa lomba ini adalah untuk mendorong kreativitas santri dalam berimajinasi.

Perlombaan memiliih syair sebagai materi lomba karena nadhaman lebih disenangi santri daripada narasi teks biasa. Kitab Alfiyyah Ibnu Malik dan Ta'lim Muta'allim dipilih karena kebanyakan syair di kedua kitab tersebut mengandung bahar rajaz,towil, basith, dan kamil.

“Selain itu dalam kitab-kitab ini banyak petuah yang harus kita petik apalagi dalam Ta'lim. Syair dari kedua kitab ini adalah yang digeluti para santri dan dihafalnya,” pungkasnya.

Para santri ini berlomba untuk memperebutkan piala Muharaman yang digelar selama hampir dua minggu. Perlombaan diikuti para santri yang terbagi berdasarkan asal daerah dengan tiga kategori lomba, yaitu pendidikan, kesenian dan olahraga dan ini adalah ajang lomba paling bergengsi di Haurkuning. (Husni Mubarok/Mahbib)

---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/

10/23/2016

Tasikmalaya, NU Online: Santri Baitul Hikmah Haurkuning melalukan sujud syukur dengan adanya Hari Santri Nasional. Mereka melakukan itu seusai melaksanakan pembacaan Shalawat Nariyah yang dilaksanakan di Masjid Jami Baitul Hikmah Haurkuning Salopa Tasikmalaya, Jawa Barat (21/10).

Sujud syukur ini dilandasi atas rasa bangga dan syukur atas perhatian pemerintah terhadap santri yang dulu kurang diakui.

Imam masjid Baitul Hikmah Ajengan Yasa mengatakan, dulu ketika dirinya mesantren, menjadi santri itu sangat susah dan sering dicurigai, khususnya ketika masa Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo.

Bahkan mengajipun dulu tak tenang, tapi ketika Hari Santri ini ada, santri jadi diakui dan mari kita sujud syukur atas nikmat ini,” ajaknya.

Santri Haurkuning Ridwan mengatakan dengan adanya Hari Santri ia menjadi bangga. Dan momentum sujud syukur itu sangat luar biasa.

“Hidup santri,” pekiknya. (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

--- --- ---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/post/read/72313/baitul-hikmah-haurkuning-sujud-syukur-hari-santri


Tasikmalaya, NU Online; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai enam wasiat yang disampaikan KH Saefudin Zuhri, pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Salopa, Tasikmalaya, Jawa Barat, patut mendapat perhatian. Menurutnya, pesan kiai yang wafat pada 30 Agustus 2013 itu harus diamalkan.<>

Keenam wasiat mantan Rais Syuriah PCNU Tasikmalaya tersebut antara lain, pertama, wajib mertahankeun (mempertahankan) aqidah, syariah, akhlaq Ahlussunnah wal Jamaah; kedua, wajib shalat di masjid awal waktu,berjamaah; ketiga, Ulah eureun ngaji (Jangan berhenti belajar).

Keempat, anak incu wajib dipasantrenkeun (anak cucu wajib dipesantrenkan); kelima, kudu jaradi NU (Harus menjadi NU); keenam, hate ulah nyantel kana dunya ulah sing nyantel ka akherat (Hati jangan  berkait pada dunia harus berkait pada akhirat.

Menurut Kang Said, sapaan akrabnya, wasiat pertama merupakan bukti komitmen untuk mempertahankan Ahlussunnah wal Jamaah, dan kita diminta tetap teguh berpegang kepada aqidah Aswaja.

“Dan di Wasiat ketiga ‘Ulah eureun ngaji’ di sini suatu perintah kepada kita, jangan berhenti jadi santri, dan teruskan perjuangan ulama, teruskan perjuangan guru kita KH Saefudin Zuhri ini,” jelasnya katanya ketika mengisi Pengajian di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning, Senin (26/10). (Husni Mubarok/Mahbib)

---
Sumber Release:
http://www.nu.or.id/


Tasikmalaya, NU Online; Segenap Dewan Pengasuh dan Dewan Santri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Tasikmalaya menghadiri Rapat Umum Tabligh Akbar pada 21 Oktober 2015/8 Muharram 1437 H nanti. Kegiatan itu akan dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pada rapat yang berlangsung di Aula Pesantren Baitul Hikmah (6/10) tersebut, pengasuh pesantren yang juga penanggung jawab kegiatan, KH Busyrol Kariem, mengimbau kepada seluruh panitia agar menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari dan bekerja semaksimal mungkin guna kelancaran kegiatan tersebut.

Sebab, menurut dia, umat Islam Tasikmalaya akan membludak menghadiri Tabligh Akbar tersebut. Selain para santri, warga masyarakat juga berbondong-bondong hadir.

Ia menambahkan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tasikmalaya dan Majelis Wakil Cabang (MWC) se-Kabupaten Tasikmalaya akan hadir. Tak hanya itu, PCNU se-Priangan Timur di antaranya Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar, juga siap hadir.

Dewan Kiai Baitul Hikmah KH Acep Salahudin menambahkan, kegiatan itu akan dihadiri Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, lembaga-lembaga NU se-Kabupaten Tasikmalaya serta para alim ulama.

Dari kalangan pemerintahan, kata dia, panita mengundang Kementerian Agama Tasikmalaya, Kapolres Kabupaten Tasikmalaya, serta camat se-Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut Kiai Acep, Baitul Hikmah jauh-jauh hari telah melakukan persiapan untuk mengatasi berbagai kekurangan agar hambatan bisa segera teratasi. (Ridwan Fauzi/Abdullah Alawi)

---

Sumber Release:
http://www.nu.or.id

11/01/2014
Komplek Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Tasikmalaya

Negara jin. Begitu orang-orang bilang. Tak seorang pun berani tinggal di sana. Tapi tidak dengan Saepudin Zuhri. Ia malah tinggal di Puncak Haur, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya.

Lebih dari lima puluh tahun silam, 18 Agustus 1964, ia mendirikan pesantren di atas bukit. Sulitnya akses jalan tak membuatnya mundur. Tekadnya bulat. Ia yakin dengan petunjuk guru dan hasil istikharahnya. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, ia yakin akan satu hal Allah SWT akan menolongnya. Ia serahkan segalanya kepada Allah SWT. Alhasil, kerja kerasnya berbuah manis. KH. Saepudin Zuhri (rahimahullah) telah membuktikan keyakinannya.

Kini, Puncak Haur bukan lagi negara jin, tapi pusat penyebaran agama Islam. Namanya diubah menjadi Haurkuning. Lengkapnya, Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Penambahan kata Baitul Hikmah setelah Bapa ((KH. Saepudin Zuhri) pulang dari Mekah tahun 1978,” sebut KH. Busyrol Karim Zuhri, putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes.

Ia menyebutkan, saat ini tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di tempatnya. Mereka datang dari berbagai pelosok tanah air. Padahal, waktu dulu dirintis, hanya ada lima orang santri. “Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haurkuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur Kiai Busyrol.

Menurutnya, di periode awal membuka pesantren, banyak santri yang ujug-ujug linglung. Mereka sampai tidak tahu jalan pulang. Tak sedikit santri yang tiba-tiba sakit. Konon, mereka diganggu jin. Malah, gangguannya ada yang terbilang parah.

Cecep Ahmad Muqoddas, santri angkatan 1986 s.d. 1991, mengaku pernah diganggu jin. “Waktu saya mesantren di Haurkuning pernah marah kepada teman. Saya kira dia yang menyembunyikan sarung saya. Eh, ternyata ada di pohon manggu. Sepertinya itu oleh jin, karena tidak mungkin teman saya naik pohon itu,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, saat ada orang yang hendak memindahkan batu sebesar rumah, ia malah sakit. Konon batu itu tegalnya jin. Tapi, pengalaman-pengalaman seperti itu bagi Cecep hanya bumbu. Selama menimba ilmu di pesantren Haurkuning, ia mengaku banyak pelajaran yang dipetik. “Saya sudah mesantren di beberapa tempat, tapi di Haurkuning yang paling bagus. Terasa mesantrennya. Pembinaan mentalna bagus,” tandasnya.

Penilaian serupa diucapkan Asep Ismail, santri angkatan 1994. Menurutnya, pengajaran di pesantren Haurkuning sangat mengena. Cara membinanya bagus. Tidak pandang bulu. Ia bangga bisa belajar ilmu alat, kitab kuning, dan yang lainnya.

Selain pengajaran tradisional, kini Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning telah membuka kelas tsanawiyah dan aliyah. “Pesantren ini dikembangkan untuk mencetak kader-kader muslim. Bukan hanya pintar, tapi harus berakhlak karimah, tekun ibadah, dan mendalam ilmunya,” ujar Kiai Busyrol. initasik.com|ashani

Alamat: Kp. Haurkuning RT 03 RW 01 Desa Mandalaguna Kec. SalopaKab. Tasikmalaya Prov. Jawa Barat
Telepon. 08211560 7722
--- ---
Sumber:
Initasik: https://initasik.com/pondok-pesantren-baitul-hikmah-haurkuning/

8/12/2014
KH. Busyrol Karim Zuhri
Kabupaten Tasik | Ilmu modern mana yang bisa menerima argumentasi pendirian pondok pesantren di atas bukit yang tidak memiliki akses jalan memadai? Jika memakai ilmu analisa pasar, misalnya, pasti tidak akan masuk. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Kiai Saepudin Zuhri saat mendirikan Pesantren Haurkuning (Sekarang namanya ditambah Baitul Hikmah) di Kp. Haurkuning, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, 50 tahun silam.

“Bapa (KH. Saepudin Zuhri Rahimullah, red) memutuskan mendirikan pesantren di sini atas dasar petunjuk guru-gurunya. Juga hasil istikharah beliau. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, Bapa yakin akan satu hal. Allah SWT akan menolongnya. Beliau menyerahkan segalanya kepada Allah SWT,” papar putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes, KH. Busyrol Karim Zuhri, kepada initasik.comsaat diwawancara di kediamannya, Minggu (10/8).

Menurutnya, saat dulu ayahandanya merintis pesantren, tidak sedikit masyarakat yang menertawakan. Bagaimana tidak? Jalan yang ada hanya setapak. Kalau hujan, licin jadi ancaman. Para santri mesti berjuang keras mendaki bukit, sambil berpegangan pada akar. Listrik? Itupun belum ada.

“Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haur Kuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tandas Kiai Busyrol.

Ia menyebutkan, saat pertama didirikan, jumlah santri hanya lima orang. Tapi sekarang, tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Mohon doanya agar kami bisa menjaga amanah pesantren ini,” imbunya. initasik.com|ashani/usep

--
Sumber Release:
Initasik: https://initasik.com/haurkuning-besar-karena-satu-alasan/

Baitul Hikmah

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3fOcHfpzL874U3OhFwoDrMy_XJr8jNRvq4CxHXPB1Qa1NMdgEO48S7NakmR2xFHZqjXE51WZv72knbXASHUdyc1GU8Tf5-YnwwxSjbUevOc7QyMDbP8vmmEHOw7-RsYxH6mavOf1ZepM/s600/baitul-hikmah-sedang.png} Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Tasikmalaya {facebook#https://www.facebook.com/baitul.hikmah.99/} {twitter#https://twitter.com/yappabahik} {youtube#https://www.youtube.com/channel/#} {instagram#https://www.instagram.com/#/}
Diberdayakan oleh Blogger.